Mengkaji Sastra Melalui Medium Sebuah Auto Kritik

Advertisement
Mengkaji Sastra Melalui Medium Sebuah Auto Kritik
===================================
Kritik memang sudah biasa dalam
kehidupan sehari hari kita, mulai dari
kritikan yang biasa saja ke kritikan
yang sangat pedas. Banyak sekali
macam macam kritik, ada kritik
langsung ataupun tidak langsung.
""Diam adalah suatu kebijaksanaan,
tetapi sedikit benar orang yang
berbuat demikian." (HR Baihaqy)"
Membaca nash artikel dengan menggunakan kacamata sastra mungkin itu sudah biasa, dan sudah banyak orang yang melakukannya, dulu dan sekarang.
Dan hampir kebanyakan mereka semua divonis sesat dan menyalahi kaidah oleh para blogger disebabkan istilah-istilah rancu yang mereka keluarkan dari hasil
ekstraksi mereka terhadap nash-nash tersebut. Kebanyakan mereka berasal
dari kalangan Sastrawan, filsof dan lainnya.
Saya sendiri sebenarnya merasa agak berat hati menulis tentang ini, karena khawatir akan memancing anggapan
dari kalangan awwam bahwa tulisan ini akan menabrak kelurusan keyakinan para blogger. Padahal sama sekali tidak dalam konteks yang demikian. Oleh karena itulah mohon untuk tidak disalahpahami, apalagi dianggap memiliki tujuan ke arah sana…
melainkan ini semua semata- mata untuk menerangi apa yang gelap sehingga bisa kita
lihat hakikat yang sebenarnya dari apa yang ingin kita ketahui. Atau kalau boleh
mengutip bahasa Syaikh Albani: "oleh karena itu, kami tidak menginginkan membela person-person tertentu secara membabi buta, tidak pula membenci person-person tertentu dengan membabi buta pula, yakni kami tidak ingin membabi buta membela Zaid ataupun membencinya dengan membabi buta pula, kami tidak ingin
membela saudara kami Rabi secara membabi buta meski kebenaran bersamanya dan kami juga kami juga tidak
ingin menghantam Sayyid Quthb secara membabi buta meski kebatilan dan kesalahan ada padanya. Yang kami inginkan hanyalah pertengahan di antara keduanya, yaitu membenarkan dan saling mendekatkan."
Tapi betapapun itu, ada satu alasan yang membuat saya mau mengawali tulisan ini, dan itu adalah para blogger yang selalu semangat dalam dunia kritik mengkritik.
Penting menjadi catatan di sini, bahwa ketika menulis ini saya bukan sama sekali ingin meruntuhkan tonggak perjuangan para blogger terdahulu dalam membela kebenaran dan memberantas pelanggaran dalam dunia blogging.
namanya manusia tidak mungkin ia
akan benar terus menerus, ataupun tidak mungkin akan akan salah terus menerus…
semua jelas memiliki momentnya masing-masing karena terikatnya ia dengan
kemanusiannya.
Dan saya sendiri sangat tidak meyakini tulisan atau bantahan saya ini benar 100% sehingga haram dikritik. Saya persilahkan secara terbuka bagi siapa saja yang ingin
mengkritiknya dalam rangka nasihat dan pengamalannya.
maka kritiklah saya. Bila Anda kesulitan berbudi pekerti yang luhur dalam berkata-kata yang lembut dalam kritikan Anda
maka kritiklah dengan gaya yang biasa Anda lakukan, tak mengapa kami telah terbiasa dengan ragam karakter
manusia sejauh ini. Karena yang kami lihat dari Anda adalah kebenaran yang Anda
bawa, bila benar maka itu adalah hak kami untuk menerimanya namun bila keliru maka tak mengapa anggap saja itu bagian dari
pembelajaran bagi siapa saja yang ingin mengambil dan menjadikannya sebagai
pelajaran. Manusia adalah tempatnya
salah dan akan menjadi sangat aneh bila ia menolak kesalahan pada dirinya.
Kita kembali pada inti persoalan. Masih ingatkah anda dengan blog bernama "Terselubung" yang dulu begitu fenomenal  dimana blog yang cuma bermodal copy paste bisa berhasil mendatangkan riibuan pengunjung bahkan mengalahkan blog blog yang katanya pakar blog indonesia(tentu saja itu cuma klaim fans nya).
Bantahan atas blog ini yang raja copas (katanya) sepertinya sudah banyak dijumpai dari kalangan blogger bahkan mas sugeng pun punya tulisannya sendiri tentang blog terselubung ini atau sejenisnya, dulu dan kini, namun sebenarnya, ada fakta yang suka luput dari pandangan kita.?
Pertanyaan seperti ini tentu membutuhkan logika tertentu untuk menjawabnya, tidak
dengan asal jawab/kritik, karena sangat tidak mungkin awalnya blog copas dan semisalnya berniat mendatangkan banyak pengunjung.
Tentu saja setiap pembicaraan harus dikontekskan, agar citra daripada pembicaraan menjadi jelas terlihat dan juga yang tak kalah penting dari itu, yaitu
untuk menghindari pemerkosaan penafsiran yang kejam dan beringas.
Oleh karena itu, sebagaimana
prinsip tulisan ini: “Siapapun bisa membantah tak terkecuali orang bodoh sekalipun bahkan anak kecil pun bisa membuat bantahan bagi siapa saja yang
ingin ia bantah. Bisa membantah tidak menunjukkan seseorang itu berilmu karena
tidak semua bantahan itu ada ilmunya, sebab ilmu hanya bisa dilihat dengan “kacamata ilmu”, bodoh bisa dilihat
dengan “kacamata ilmu”, tapi ilmu tidak akan bisa dilihat oleh kebodohan, sebab
kebodohan hanya melihat kebodohan sebagai satu- satunya ilmu. Dan tidak ada yang dapat menyadarkan orang bodoh tentang kebodohannya meski langit runtuh di depannya. maka haruslah disadari bahwa dalam membela kebenaran dan ahlinya membangun kritikan atas sesuatu yang dianggap keliru dari person tertentu saja
sesungguhnya tidak cukup tanpa diiringi lanscape pemahaman yang jelas dan
memadai, karena hal tersebut akan menjadikan si pengkritik hanya berimajinasi gila tentang sesuatu yang ia ciptakan dari kebodohannya sendiri, padahal kenyataannya tidaklah demikian adanya.
Oleh karena itu, kritikan haruslah memiliki taji, tanpa taji maka kritikan tersebut tidak akan mampu merusak, mengoyak dan merobohkan pertahan lawan meskipun
senjata dalam kritikan kita adalah Undang undang hak cipta dan bukti pelanggaran, karena pedang setajam apapun bila yang menggunakannya tak terampil maka bisa jadi bukan musuhnya yang ia lukai justru
dirinya sendiri.
Sebenarnya ada satu pelajaran
berharga yang bisa kita petik
dari para pengkritik ini, yaitu kebencian yang membabi buta akan “membutakan” nalar ilmiah sehingga ia tidak lagi bisa membedakan mana kebenaran dan mana
kebatilan, semua akan dianggap sama diakibatkan kebutaannya tersebut. Dan
tentu saja ini adalah aibn(kiamat) dalam dunia ilmu blogging,.
Hal ini sebenarnya tidak hanya kita jumpai pada orang pada yg suka mengkritik saja, bahkan sering kita jumpai pada ikhwan kita sesama penulis, terlebih mereka yang hobi melakukan rudud.
Dimana kebencian butanya sering kali membutakan kritisismenya atas segala kebatilan sehingga bila mana mereka terjatuh juga pada kebatilan(kesalahan) yang sama tiba-tiba mereka menjadi keledai dungu. Orang lain disalah- salahkan namun ketika mereka sendiri yang melakukan hal yang sama mereka terus saja membela diri seakan-akan yang mereka lakukan itu benar adanya, seperti bunyi sebuah pepatah ndeso: mana ada maling ngaku salah!
Saya disini tidak akan
berpanjang lebar membahas blog Terselubung apalagi tulisan mas sugeng yang saya maksud di atas. karena sebenarnya bukan itu inti daripada tulisan saya, "Terselubung" hanyalah instrumen kecil saja yang sengaja saya masukan ke dalam tulisan ini.
Yang menjadi fokus tulisan ini adalah bagaimana memperbaiki seni mengkritik sebagaimana judul di atas.
*Ditulis oleh seseorang yang Majhul
Baca juga:
Advertisement

Masukan email Anda disini untuk mendapatkan update postingan secara gratis:

2 Responses to "Mengkaji Sastra Melalui Medium Sebuah Auto Kritik"

  1. kebencian jangan dibalas dengan kebencian. semoga kita senantiasa termasuk orang-orang yang sabar ^_^.

    BalasHapus
  2. Nice post ni gan..sllu berkarya

    BalasHapus

• Silahkan berkomentar yang relevan dengan isi artikel yang akan menggambarkan profesionalisme dan kualitas diri Anda.
• Komentar basa-basi tidak akan dipublikasikan
• Komentar yang mengandung link tautan aktif tidak akan dipublikasikan, jadi percuma Anda pasang link aktif